Cara Mengenali Pembaca Anda
Ditulis oleh: Puji Arya Yanti
Mengenali pembaca ikut menentukan apakah nantinya tulisan Anda akan dibaca orang atau tidak. Setelah mengenali pembaca, penulis juga perlu menentukan isi, cara mengemas, dan cara menyampaikan pesan dalam tulisannya. Berikut ini langkah-langkah untuk mengenali pembaca sebelum Anda menulis.
Siapakah pembaca tulisan Anda?
Tentukan dan pilih siapa yang akan menjadi pembaca tulisan Anda. Hal ini sebaiknya Anda lakukan sebelum menulis karena akan memengaruhi hasil tulisan Anda. Apakah mereka anak-anak, orang dewasa, laki-laki atau perempuan, apa profesinya, dan setiap hal yang melatarbelakangi calon pembaca tulisan Anda. Pertimbangkanlah semua itu sebelum Anda menulis.
Apakah yang menjadi kesukaan pembaca.
Setelah menentukan target pembaca Anda, selidiki pula hal-hal yang disukai target pembaca Anda. Contohnya, anak-anak lebih menyukai cerita-cerita atau dongeng dibanding tulisan-tulisan ilmiah. Seorang perempuan lebih menyukai tulisan dalam bidang kecantikan dibanding laki-laki. Seorang petani lebih menyukai tulisan tentang tanaman dibanding seorang insinyur.
Tentukan bentuk tulisan yang akan Anda pakai.
Sajikan tulisan-tulisan Anda dalam bentuk yang sesuai. Berikut ini adalah beberapa bentuk tulisan.
Narasi
Tulisan dihadirkan sedemikian rupa, seolah-olah hidup dalam imanjinasi pembaca.
Deskripsi
Tulisan dihadirkan berupa penjelasan sehingga pembaca seolah-olah terlibat di dalamnya dan merasakan apa yang ditangkap oleh alat indranya.
Argumentasi
Tulisan bentuk ini dapat memancing pembaca mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ketiga bentuk di atas tidak harus berdiri sendiri atau dapat dipadukan sehingga pembaca semakin mengerti maksud gagasan penulis yang disampaikan dalam tulisan.
Belajarlah dari tulisan yang ada sebelumnya.
Tentunya ada banyak tulisan bagus yang sesuai dengan target pembaca yang sudah pernah terbit di sekitar Anda. Belajarlah dari tulisan-tulisan tersebut agar pengetahuan dan keterampilan menulis Anda semakin bertambah. Ke depannya, Anda dapat menghasilkan tulisan yang disukai dan digemari pula oleh pembaca Anda.
Meskipun mengenali pembaca ini dilakukan agar tulisan kita dibaca sehingga kita dapat menulis sesuatu yang mereka sukai, namun sebagai penulis kita tetap harus bertanggung jawab dengan apa yang kita tulis. Kita harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang sesuai dengan kebenaran. Tidak melulu hanya mengikuti sesuatu yang marak di pasaran.
Rabu, 04 November 2009
Cara Membuat Ringkasan
Cara Membuat Ringkasan.
Diringkas Oleh: Puji Arya Yanti
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuat ringkasan. Berikut ini beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur.
Membaca Naskah Asli
Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh. Penulis ringkasan juga perlu mengetahui maksud dan sudut pandangan penulis naskah asli. Untuk mencapainya, judul dan daftar isi tulisan (kalau ada) dapat dijadikan pegangan karena perincian daftar isi memunyai pertalian dengan judul dan alinea-alinea dalam tulisan menunjang pokok-pokok yang tercantum dalam daftar isi.
Mencatat Gagasan Utama
Jika Anda sudah menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandangan pengarang asli, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Bacalah kembali karangan itu bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat semua gagasan yang penting dalam bagian atau alinea itu. Pokok-pokok yang telah dicatat dipakai untuk menyusun sebuah ringkasan. Langkah kedua ini juga menggunakan judul dan daftar isi sebagai pegangan. Yang menjadi sasaran pencatatan adalah judul-judul bab, judul anak bab, dan alinea, kalau perlu gagasan bawahan alinea yang betul-betul esensial untuk memperjelas gagasan utama tadi juga dicatat.
Mengadakan Reproduksi
Pakailah kesan umum dan hasil pencatatan untuk membuat ringkasan. Urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya. Bila gagasan yang telah dicatat ada yang masih kabur, silakan melihat kembali teks aslinya, tapi jangan melihat teks asli lagi untuk hal lainnya agar Anda tidak tergoda untuk menggunakan kalimat dari penulis asli. Karena kalimat penulis asli hanya boleh digunakan bila kalimat itu dianggap penting karena merupakan kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.
Ketentuan Tambahan
Setelah melakukan langkah ketiga, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
Susunlah ringkasan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
Ringkaskanlah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Jika rangkaian gagasan panjang, gantilah dengan suatu gagasan sentral saja.
Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. Ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang dianggap penting.
Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat yang terdapat dalam naskah.
Anda harus mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah. Tapi yang sudah dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan Anda. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau pikiran Anda sendiri yang dimasukkan dalam ringkasan.
Agar dapat membedakan ringkasan sebuah tulisan biasa (bahasa tak langsung) dan sebuah pidato/ceramah (bahasa langsung) yang menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal atau jamak, ringkasan pidato atau ceramah itu harus ditulis dengan sudut pandangan orang ketiga.
Dalam sebuah ringkasan ditentukan pula panjangnya. Karena itu, Anda harus melakukan seperti apa yang diminta. Bila diminta membuat ringkasan menjadi seperseratus dari karangan asli, maka haruslah membuat demikian. Untuk memastikan apakah ringkasan yang dibuat sudah seperti yang diminta, silakan hitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yang harus ditulisnya. Perhitungan ini tidak dimaksudkan agar Anda menghitung secara tepat jumlah riil kata yang ada. Tapi perkiraan yang dianggap mendekati kenyataan. Jika Anda harus meringkaskan suatu buku yang tebalnya 250 halaman menjadi sepersepuluhnya, perhitungan yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut:
Panjang karangan asli (berupa kata) adalah: Jumlah halaman x Jumlah baris per halaman x Jumlah kata per baris = 250 x 35 X 9 kata = 78.750 kata.
Panjang ringkasan berupa jumlah kata adalah: 78.750 : 10 = 7.875 kata. Panjang ringkasan berupa jumlah halaman ketikan adalah: jika kertas yang dipergunakan berukuran kuarto, jarak antar baris dua spasi, tiap baris rata-rata sembilan kata, pada halaman kertas kuarto dapat diketik 25 baris dengan jarak dua spasi, maka: Jumlah kata per halaman adalah: 25x 9 kata = 225. Jumlah halaman yang diperlukan adalah: 7.875:225 = 35 halaman.
Diringkas dari:
Judul buku:Komposisi
Penulis :Gorys Keraf
Penerbit :Nusa Indah, Ende 1984
Halaman :263 -- 269
Diringkas Oleh: Puji Arya Yanti
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuat ringkasan. Berikut ini beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur.
Membaca Naskah Asli
Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh. Penulis ringkasan juga perlu mengetahui maksud dan sudut pandangan penulis naskah asli. Untuk mencapainya, judul dan daftar isi tulisan (kalau ada) dapat dijadikan pegangan karena perincian daftar isi memunyai pertalian dengan judul dan alinea-alinea dalam tulisan menunjang pokok-pokok yang tercantum dalam daftar isi.
Mencatat Gagasan Utama
Jika Anda sudah menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandangan pengarang asli, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Bacalah kembali karangan itu bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat semua gagasan yang penting dalam bagian atau alinea itu. Pokok-pokok yang telah dicatat dipakai untuk menyusun sebuah ringkasan. Langkah kedua ini juga menggunakan judul dan daftar isi sebagai pegangan. Yang menjadi sasaran pencatatan adalah judul-judul bab, judul anak bab, dan alinea, kalau perlu gagasan bawahan alinea yang betul-betul esensial untuk memperjelas gagasan utama tadi juga dicatat.
Mengadakan Reproduksi
Pakailah kesan umum dan hasil pencatatan untuk membuat ringkasan. Urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya. Bila gagasan yang telah dicatat ada yang masih kabur, silakan melihat kembali teks aslinya, tapi jangan melihat teks asli lagi untuk hal lainnya agar Anda tidak tergoda untuk menggunakan kalimat dari penulis asli. Karena kalimat penulis asli hanya boleh digunakan bila kalimat itu dianggap penting karena merupakan kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.
Ketentuan Tambahan
Setelah melakukan langkah ketiga, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
Susunlah ringkasan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
Ringkaskanlah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Jika rangkaian gagasan panjang, gantilah dengan suatu gagasan sentral saja.
Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. Ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang dianggap penting.
Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat yang terdapat dalam naskah.
Anda harus mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah. Tapi yang sudah dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan Anda. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau pikiran Anda sendiri yang dimasukkan dalam ringkasan.
Agar dapat membedakan ringkasan sebuah tulisan biasa (bahasa tak langsung) dan sebuah pidato/ceramah (bahasa langsung) yang menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal atau jamak, ringkasan pidato atau ceramah itu harus ditulis dengan sudut pandangan orang ketiga.
Dalam sebuah ringkasan ditentukan pula panjangnya. Karena itu, Anda harus melakukan seperti apa yang diminta. Bila diminta membuat ringkasan menjadi seperseratus dari karangan asli, maka haruslah membuat demikian. Untuk memastikan apakah ringkasan yang dibuat sudah seperti yang diminta, silakan hitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yang harus ditulisnya. Perhitungan ini tidak dimaksudkan agar Anda menghitung secara tepat jumlah riil kata yang ada. Tapi perkiraan yang dianggap mendekati kenyataan. Jika Anda harus meringkaskan suatu buku yang tebalnya 250 halaman menjadi sepersepuluhnya, perhitungan yang harus Anda lakukan adalah sebagai berikut:
Panjang karangan asli (berupa kata) adalah: Jumlah halaman x Jumlah baris per halaman x Jumlah kata per baris = 250 x 35 X 9 kata = 78.750 kata.
Panjang ringkasan berupa jumlah kata adalah: 78.750 : 10 = 7.875 kata. Panjang ringkasan berupa jumlah halaman ketikan adalah: jika kertas yang dipergunakan berukuran kuarto, jarak antar baris dua spasi, tiap baris rata-rata sembilan kata, pada halaman kertas kuarto dapat diketik 25 baris dengan jarak dua spasi, maka: Jumlah kata per halaman adalah: 25x 9 kata = 225. Jumlah halaman yang diperlukan adalah: 7.875:225 = 35 halaman.
Diringkas dari:
Judul buku:Komposisi
Penulis :Gorys Keraf
Penerbit :Nusa Indah, Ende 1984
Halaman :263 -- 269
Beberapa Patokan dalam Menulis
Beberapa Patokan dalam Menulis
Oleh: H. Rosihan Anwar
Pada awalnya sudah kita katakan bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Dalam hubungan itu, marilah kita tetapkan beberapa patokan dalam menggunakan bahasa jurnalistik.
Pengarang Amerika Ernest Hemingway yang memenangkan Hadiah Pulitzer dan Hadiah Nobel di waktu mudanya menjadi wartawan surat kabar Kansas City Star. Di situ dia sambil bekerja diberi pelajaran tentang prinsip-prinsip penulisan berita. Pelajaran itu baik sekali dijadikan pedoman oleh wartawan Indonesia, apakah dia bekerja pada kantor berita, surat kabar, majalah, atau pada radio dan televisi. Prinsip yang diajarkan kepada Hemingway ialah sebagai berikut.
Gunakan kalimat-kalimat pendek.
Bahasa ialah alat bagi menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan untuk komunikasi. Wartawan perlu ingat supaya apa yang disampaikannya kepada khalayak (audience) betul-betul dapat dimengerti orang. Kalau tidak demikian, maka gagallah wartawan itu karena dia tidak komunikatif namanya. Salah satu cara, dia harus berusaha menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah atau kalau terpaksa juga, dia harus menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut. Dia harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Kalau maksud tercapai dengan memakai perkataan "ikut-sertanya", "keikutsertaan", maka baiklah diurungkan niat menuliskan perkataan yang lebih sulit, yaitu "partisipasi".
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang.
Khalayak media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Mencapai khalayak yang beraneka ragam dengan berhasil merupakan masalah yang berat bagi wartawan. Bagaimanakah caranya supaya sedapat mungkin bertemu? Injo Beng Goat, pemimpin redaksi harian "KengPo" di Jakarta tahun 1950-an mempunyai semacam rumus. Dia berkata kalau dia hendak menulis tajuk rencana, maka yang dibayangkan di depan matanya ialah pembaca yang pukul rata berpendidikan sederhana, katakanlah tamat SMP. Dengan patokan demikian dia berusaha menulis sesederhana dan sejernih mungkin.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya.
Kalimat bahasa Indonesia bersahaja sifatnya. Ia terdiri dari kata pokok atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan atau objek (O). Misalnya, kalimat "Si Amat (S) pergi ke pasar (P) membeli sebuah pena". Kalimat demikian sudah lengkap berdiri sendiri. Karena terpengaruh oleh jalan bahasa Belanda atau bahasa Inggris, ada orang Indonesia yang biasa pula menulis kalimat yang panjang, berbentuk "compound sentence", kalimat majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya, dia menulis, "Si Amat pergi ke pasar beli sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga dibeli di toko seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih mudah jadinya". Dengan menggunakan kalimat majemuk, pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Sebaiknya, wartawan menjauhkan diri dari kesukaan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi "woolly" alias tidak terang.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut dari wartawan. Berita demikian lebih menarik dibaca. Bandingkanlah, misalnya, kalimat yang berbunyi, "Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan" dengan kalimat yang berbunyi, "Si Polan memukul si Amat babak belur".
Tidakkah terasa kalimat yang kedua jauh lebih hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan pada si Amat yang membuat kalimat pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka umumnya cara menulis dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.
Bagaimanapun juga, usahakanlah melaksanakan prinsip:
Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif.
Wartawan muda sering kali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Ini dapat dipahami, apalagi jika dia hendak berkecimpung dalam dunia lirik dan puisi. Dia mengira dengan demikian tulisannya menjadi lebih indah. Misalnya, dia menulis kalimat berikut, "Siapa nyana, siapa kira, siapa sangka hati Bobby hancur-luluh, runtuh-berderai karena gadis jelita elok rupawan si manis Yatie". Bahasa jurnalistik tidak menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang dipakai harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.
Maka prinsip yang harus diingat:
Gunakan bahasa padat dan kuat.
Kembali kepada pengarang Ernest Hemingway, ia mengemukakan sebuah prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis umpamanya kalimat berikut, "Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga". Kalimat ini secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan "tidak menghendaki"). Akan tetapi, dengan arti yang persis sama, kita bisa pula menulis, "Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga". Kalimat ini dinamakan berbentuk positif (perkataan "menolak" positif sifatnya dibandingkan dengan perkataan "tidak menghendaki" yang mengandung perkataan "tidak" dan karena itu bersifat negatif. Manakala di antara kedua kalimat tadi yang kita pilih? Hemingway menasihatkan supaya sedapat-dapatnya kita menulis dalam bentuk kalimat positif.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif.
Demikianlah secara selayang pandang diberikan tadi suatu gambaranikhtisar atau "overview" tentang bahasa jurnalistik Indonesia.
Definisinya diberikan, sifat-sifat khasnya dicirikan, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Pendasarannya diunjukkan, yaitu harus berdasar bahasa baku.
Pokok-pokok aturan tata bahasa Indonesia tidak boleh diabaikannya.
Ejaan baru ditaatinya. Dalam pertumbuhan kosa kata, dia mengikuti dan mencerminkan perkembangan masyarakat.
Oleh: H. Rosihan Anwar
Pada awalnya sudah kita katakan bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Dalam hubungan itu, marilah kita tetapkan beberapa patokan dalam menggunakan bahasa jurnalistik.
Pengarang Amerika Ernest Hemingway yang memenangkan Hadiah Pulitzer dan Hadiah Nobel di waktu mudanya menjadi wartawan surat kabar Kansas City Star. Di situ dia sambil bekerja diberi pelajaran tentang prinsip-prinsip penulisan berita. Pelajaran itu baik sekali dijadikan pedoman oleh wartawan Indonesia, apakah dia bekerja pada kantor berita, surat kabar, majalah, atau pada radio dan televisi. Prinsip yang diajarkan kepada Hemingway ialah sebagai berikut.
Gunakan kalimat-kalimat pendek.
Bahasa ialah alat bagi menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan untuk komunikasi. Wartawan perlu ingat supaya apa yang disampaikannya kepada khalayak (audience) betul-betul dapat dimengerti orang. Kalau tidak demikian, maka gagallah wartawan itu karena dia tidak komunikatif namanya. Salah satu cara, dia harus berusaha menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah atau kalau terpaksa juga, dia harus menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut. Dia harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Kalau maksud tercapai dengan memakai perkataan "ikut-sertanya", "keikutsertaan", maka baiklah diurungkan niat menuliskan perkataan yang lebih sulit, yaitu "partisipasi".
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang.
Khalayak media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Mencapai khalayak yang beraneka ragam dengan berhasil merupakan masalah yang berat bagi wartawan. Bagaimanakah caranya supaya sedapat mungkin bertemu? Injo Beng Goat, pemimpin redaksi harian "KengPo" di Jakarta tahun 1950-an mempunyai semacam rumus. Dia berkata kalau dia hendak menulis tajuk rencana, maka yang dibayangkan di depan matanya ialah pembaca yang pukul rata berpendidikan sederhana, katakanlah tamat SMP. Dengan patokan demikian dia berusaha menulis sesederhana dan sejernih mungkin.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya.
Kalimat bahasa Indonesia bersahaja sifatnya. Ia terdiri dari kata pokok atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan atau objek (O). Misalnya, kalimat "Si Amat (S) pergi ke pasar (P) membeli sebuah pena". Kalimat demikian sudah lengkap berdiri sendiri. Karena terpengaruh oleh jalan bahasa Belanda atau bahasa Inggris, ada orang Indonesia yang biasa pula menulis kalimat yang panjang, berbentuk "compound sentence", kalimat majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya, dia menulis, "Si Amat pergi ke pasar beli sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga dibeli di toko seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih mudah jadinya". Dengan menggunakan kalimat majemuk, pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Sebaiknya, wartawan menjauhkan diri dari kesukaan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi "woolly" alias tidak terang.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut dari wartawan. Berita demikian lebih menarik dibaca. Bandingkanlah, misalnya, kalimat yang berbunyi, "Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan" dengan kalimat yang berbunyi, "Si Polan memukul si Amat babak belur".
Tidakkah terasa kalimat yang kedua jauh lebih hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan pada si Amat yang membuat kalimat pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka umumnya cara menulis dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.
Bagaimanapun juga, usahakanlah melaksanakan prinsip:
Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif.
Wartawan muda sering kali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Ini dapat dipahami, apalagi jika dia hendak berkecimpung dalam dunia lirik dan puisi. Dia mengira dengan demikian tulisannya menjadi lebih indah. Misalnya, dia menulis kalimat berikut, "Siapa nyana, siapa kira, siapa sangka hati Bobby hancur-luluh, runtuh-berderai karena gadis jelita elok rupawan si manis Yatie". Bahasa jurnalistik tidak menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang dipakai harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.
Maka prinsip yang harus diingat:
Gunakan bahasa padat dan kuat.
Kembali kepada pengarang Ernest Hemingway, ia mengemukakan sebuah prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis umpamanya kalimat berikut, "Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga". Kalimat ini secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan "tidak menghendaki"). Akan tetapi, dengan arti yang persis sama, kita bisa pula menulis, "Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga". Kalimat ini dinamakan berbentuk positif (perkataan "menolak" positif sifatnya dibandingkan dengan perkataan "tidak menghendaki" yang mengandung perkataan "tidak" dan karena itu bersifat negatif. Manakala di antara kedua kalimat tadi yang kita pilih? Hemingway menasihatkan supaya sedapat-dapatnya kita menulis dalam bentuk kalimat positif.
Maka prinsip yang dipegang ialah:
Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif.
Demikianlah secara selayang pandang diberikan tadi suatu gambaranikhtisar atau "overview" tentang bahasa jurnalistik Indonesia.
Definisinya diberikan, sifat-sifat khasnya dicirikan, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Pendasarannya diunjukkan, yaitu harus berdasar bahasa baku.
Pokok-pokok aturan tata bahasa Indonesia tidak boleh diabaikannya.
Ejaan baru ditaatinya. Dalam pertumbuhan kosa kata, dia mengikuti dan mencerminkan perkembangan masyarakat.
Bagian-bagian serta Beberapa Hal yang Perlu Diketahui dalam Merenulis Feature
Bagian-bagian serta Beberapa Hal yang Perlu Diketahui dalam Menulis Feature.
Penulis : Harianto GP
Berikut adalah bagian-bagian serta beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menulis feature
1. Judul.Judul sebuah feature memiliki peran cukup besar dalam menarik minat pembaca membaca feature tersebut. Oleh karena itu judul hendaknya memiliki beberapa sifat sebagai berikut:
Atraktif (menarik perhatian) namun tidak bombastis
Memuat inti terpenting dari tulisan
Komunikatif, mudah dipahami, jelas, ringkas, padat dan sederhana
Logis, dalam artian bersifat pasti dan dapat dipercaya.
2. Lead / Pembukaan.Setelah judul, bagian selanjutnya yang juga berfungsi sebagai penarik minat pembaca adalah lead / pembukaan. Lead merupakan kunci, apakah tulisan kita akan dibaca atau dihiraukan pembaca. Selain itu, sebuah lead bagi penulis juga membantu dalam menulis isi feature selanjutnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat lead:
Lead harus ringkas dan tidak bertele-tele, selain juga singkat, tepat, enak dibaca dan menarik
Gaetlah pembaca sejak awal kata. Tentukan mana kata yang lebih mampu menyeret perhatian ke kata selanjutnya
Gunakan kata-kata aktif. Dalam artian, kata-kata itu harus dinamis, menunjukkan adanya gerakan dan tidak diam karena kalimatnya yang pasif. Kata kerja adalah contoh kalimat aktif, sama halnya dengan kata yang berawalan "me". Sedangkan kata yang berawalan "di" umumnya dipakai untuk menunjukkan kalimat pasif, karena itu sedapat mungkin harus dihindari. Kata sifat juga dapat digunakan untuk mempercantik dan memberi nafas dalam membuka sebuah feature.
Jangan sekali-kali membuka sebuah feature dengan kalimat seperti "Dalam rangka...", "Setelah itu...", "Pada suatu hari.." dan kalimat sejenisnya.
3. Body / Isi.Body / isi feature dibuat sebagai langkah kelima, setelah topik, tema, lead, dan kerangka. Bagi seorang penulis pemula, kerangka / outline sangat penting sebagai semacam pedoman dalam menuliskan isi. Bahkan bisa dikatakan, saat Anda telah menyelesaikan sebuah outline, sama artinya dengan Anda menyelesaikan 50% tulisan. Semakin rinci outline yang Anda buat, makin mudah pula Anda menuangkan gagasan-gagasan dan data-data tersebut ke dalam tulisan.
Setelah outline selesai dibuat, aturlah semua gagasan dan data tadi ke dalam beberapa bab secara merata. Jika satu bab ternyata mempunyai data yang terlalu banyak sementara bab lain memiliki data yang terlalu sedikit, pangkaslah data yang berlebihan itu dan carilah data baru untuk bab yang masih kekurangan data tadi.
Beberapa syarat untuk membuat body yang baik:
Merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Judul, pembukaan, isi dan penutup harus merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, oleh karenanya hubungan antar alinea harus mengalir secara sistematis dan tidak dapat dipenggal-penggal.
Adanya penekanan. Masing-masing bagian, antara lead, bab dalam body dan penutup selayaknya mendapat perhatian sama. Semuanya memiliki intinya sendiri.
Adanya transisi. Transisi atau sepatah dua patah kata penghubung hendaknya selalu ada di antara lead dan isi, dan juga antara alinea satu dengan yang lainnya. Transisi berguna untuk memperlancar dan memudahkan pembaca menelusuri tulisan yang dibacanya. Kalimat-kalimat seperti: "Selain itu..", "Sementara itu..", "Lain halnya dengan..", "Sore harinya..", "Tidak jauh dari situ..", "Bung Anton berpendapat lain lagi.." adalah contoh transisi.
4. Fokus.Fokus berguna dalam mendukung topik atau tema yang kita sampaikan agar tetap berjalan di jalur yang seharusnya. Pastikan agar fokus anda tidak melenceng, dalam artian tidak memuat informasi yang tidak berhubungan dengan tema atau sumber informasi yang tidak kompeten.
5. Penutupan.Mengakhiri tulisan bisa mudah namun bisa juga tidak. Pada hakekatnya, penutup mempunyai peran penting dalam menentukan kesan akhir yang diperoleh pembaca. Oleh karena itu, seperti halnya lead, penutup juga harus dibuat semenarik mungkin. Ingatlah bahwa dalam penulisan feature, bagian pembuka / lead serta penutup adalah bagian yang mengembang atau berisi hal-hal yang penting.
Penulis : Harianto GP
Berikut adalah bagian-bagian serta beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menulis feature
1. Judul.Judul sebuah feature memiliki peran cukup besar dalam menarik minat pembaca membaca feature tersebut. Oleh karena itu judul hendaknya memiliki beberapa sifat sebagai berikut:
Atraktif (menarik perhatian) namun tidak bombastis
Memuat inti terpenting dari tulisan
Komunikatif, mudah dipahami, jelas, ringkas, padat dan sederhana
Logis, dalam artian bersifat pasti dan dapat dipercaya.
2. Lead / Pembukaan.Setelah judul, bagian selanjutnya yang juga berfungsi sebagai penarik minat pembaca adalah lead / pembukaan. Lead merupakan kunci, apakah tulisan kita akan dibaca atau dihiraukan pembaca. Selain itu, sebuah lead bagi penulis juga membantu dalam menulis isi feature selanjutnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat lead:
Lead harus ringkas dan tidak bertele-tele, selain juga singkat, tepat, enak dibaca dan menarik
Gaetlah pembaca sejak awal kata. Tentukan mana kata yang lebih mampu menyeret perhatian ke kata selanjutnya
Gunakan kata-kata aktif. Dalam artian, kata-kata itu harus dinamis, menunjukkan adanya gerakan dan tidak diam karena kalimatnya yang pasif. Kata kerja adalah contoh kalimat aktif, sama halnya dengan kata yang berawalan "me". Sedangkan kata yang berawalan "di" umumnya dipakai untuk menunjukkan kalimat pasif, karena itu sedapat mungkin harus dihindari. Kata sifat juga dapat digunakan untuk mempercantik dan memberi nafas dalam membuka sebuah feature.
Jangan sekali-kali membuka sebuah feature dengan kalimat seperti "Dalam rangka...", "Setelah itu...", "Pada suatu hari.." dan kalimat sejenisnya.
3. Body / Isi.Body / isi feature dibuat sebagai langkah kelima, setelah topik, tema, lead, dan kerangka. Bagi seorang penulis pemula, kerangka / outline sangat penting sebagai semacam pedoman dalam menuliskan isi. Bahkan bisa dikatakan, saat Anda telah menyelesaikan sebuah outline, sama artinya dengan Anda menyelesaikan 50% tulisan. Semakin rinci outline yang Anda buat, makin mudah pula Anda menuangkan gagasan-gagasan dan data-data tersebut ke dalam tulisan.
Setelah outline selesai dibuat, aturlah semua gagasan dan data tadi ke dalam beberapa bab secara merata. Jika satu bab ternyata mempunyai data yang terlalu banyak sementara bab lain memiliki data yang terlalu sedikit, pangkaslah data yang berlebihan itu dan carilah data baru untuk bab yang masih kekurangan data tadi.
Beberapa syarat untuk membuat body yang baik:
Merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Judul, pembukaan, isi dan penutup harus merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, oleh karenanya hubungan antar alinea harus mengalir secara sistematis dan tidak dapat dipenggal-penggal.
Adanya penekanan. Masing-masing bagian, antara lead, bab dalam body dan penutup selayaknya mendapat perhatian sama. Semuanya memiliki intinya sendiri.
Adanya transisi. Transisi atau sepatah dua patah kata penghubung hendaknya selalu ada di antara lead dan isi, dan juga antara alinea satu dengan yang lainnya. Transisi berguna untuk memperlancar dan memudahkan pembaca menelusuri tulisan yang dibacanya. Kalimat-kalimat seperti: "Selain itu..", "Sementara itu..", "Lain halnya dengan..", "Sore harinya..", "Tidak jauh dari situ..", "Bung Anton berpendapat lain lagi.." adalah contoh transisi.
4. Fokus.Fokus berguna dalam mendukung topik atau tema yang kita sampaikan agar tetap berjalan di jalur yang seharusnya. Pastikan agar fokus anda tidak melenceng, dalam artian tidak memuat informasi yang tidak berhubungan dengan tema atau sumber informasi yang tidak kompeten.
5. Penutupan.Mengakhiri tulisan bisa mudah namun bisa juga tidak. Pada hakekatnya, penutup mempunyai peran penting dalam menentukan kesan akhir yang diperoleh pembaca. Oleh karena itu, seperti halnya lead, penutup juga harus dibuat semenarik mungkin. Ingatlah bahwa dalam penulisan feature, bagian pembuka / lead serta penutup adalah bagian yang mengembang atau berisi hal-hal yang penting.
Bagaimana Menyunting Tulisan Anda Sendiri (Swasunting)
Bagaimana Menyunting Tulisan Anda Sendiri (Swasunting)
Apabila draf tulisan Anda terlihat kaku dan kurang baik, hal itu bisa diperbaiki dengan suntingan yang baik. Karena menyewa seorang editor tidaklah selalu dimungkinkan, sering kali Anda mendapat "kesempatan" untuk menyuntingnya sendiri. Setiap kali Anda bergulat dengan ide-ide, frasa, dan kata-kata sifat untuk menaruh gambaran yang Anda maksud ke dalam pikiran pembaca, Anda akan menghargai bahwa menulis adalah hal yang sulit. Menyunting merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan -- suntingan yang baik biasanya memerlukan waktu yang lamanya hampir sama dengan penulisan draf tulisan itu sendiri. Meski demikian, hasilnya setimpal dengan upaya yang dilakukan saat menyunting.
Menyunting adalah proyek yang harus dilakukan berulang kali dan benar-benar membutuhkan kesabaran. Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus Anda lakukan dalam menyunting. Urutan langkah yang Anda ambil dalam menyunting akan memengaruhi gaya tulisan Anda; lakukan sedikit percobaan untuk mengetahui urutan langkah-langkah mana yang paling baik menyunting tulisan Anda. Anda akan menyadari bahwa Anda sebenarnya sedang menyunting ketika Anda secara positif sudah muak dan lelah membaca ulang tulisan Anda.
Sinonim
Belilah tesaurus terbaik yang bisa Anda temukan. Sebuah tesaurus akan membantu jika tesaurus itu memiliki bagian "kategori" yang memungkinkan Anda untuk membaca secara ide besar. Bacalah tulisan Anda dan carilah persamaan kata yang paling cocok/tepat untuk menggambarkan maksud Anda. Namun, Anda harus berhati-hati, ingatlah bahwa masing-masing pembaca memiliki tingkat pengetahuan yang tidak sama dan mungkin menghindari kata-kata yang terlalu rumit.
Simile dan Metafora
Pakailah simile dan metafora jika memungkinkan, namun usahakan tetap sesuai dengan konteks tulisan Anda. Terkadang, metafora yang terlalu luas (atau simile yang terlalu menyolok) dapat mengacaukan gagasan utama tulisan Anda. Jangan memadukan metafora dengan membandingkan sesuatu dengan cerek teh hanya untuk kemudian membandingkannya dengan sebuah mobil.
Cek Kamus
Baca tulisan Anda, jika Anda kurang begitu yakin dengan arti suatu kata, carilah arti kata tersebut di dalam kamus. Saya sendiri beberapa kali terkejut saat saya menggunakan satu kata berkali-kali hanya untuk membuat tulisan terlihat bagus dan kemudian menemui bahwa maknanya benar-benar berbeda dari yang saya maksud.
Bacalah Keras-keras
Anda tidak perlu membacanya keras-keras di depan orang lain. Mengherankan, bahkan saat Anda duduk di sofa sendirian dan membacanya, Anda bisa segera menemukan frasa dan kata-kata yang janggal yang sangat sering Anda gunakan.
Tindakan dan Kalimat Aktif
Tulisan Anda akan menjadi jelas bila Anda menyusun kalimat Anda dengan pola subjek-predikat-objek; tulislah sebuah tindakan daripada mendeskripsikan situasi. Gunakan komputer Anda untuk mencari kata-kata kerja yang diawali dengan "di" -- tulisan Anda akan lebih baik jika Anda menggunakan kalimat aktif.
Buatlah Kalimat Positif
Terkadang, kata "tidak" berguna untuk menekankan sesuatu. Namun sering kali, sebuah kalimat akan jauh lebih kuat jika kalimat itu adalah kalimat positif; gunakan komputer untuk mencari kata "tidak" dan tulis kembali kalimat tersebut dengan menggunakan deskripsi lain.
Hilangkan Tanda Koma
Tanda koma yang diikuti kata "tetapi" bukanlah masalah. Tanda koma untuk memisahkan daftar rincian sesuatu juga tak menjadi masalah. Tanda koma untuk menjelaskan kalimat dalam tanda kurung boleh dipakai. Namun, penggunaan tanda koma untuk hal lain membutuhkan kecermatan khusus -- apakah seharusnya memakai tanda titik koma, titik dua, tanda hubung, atau tanda kurung?
Tenggelamkan Kesokpintaran Anda.
Jika ada tulisan yang kesannya "sok pintar", Anda harus menyingkirkannya.
Susunlah Kembali Kata-kata dan Kalimat Anda
Usahakan kata-kata Anda tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. Kata-kata penting terletak di akhir kalimat; kalimat utama terletak di akhir paragraf.
Kata-kata Memiliki Intonasi
Kadang membaca bisa menjadi aneh karena tekanan setiap suku katanya begitu "datar". Tandailah tulisan Anda dengan suku kata yang memiliki penekanan dan susunlah kembali kata-kata yang datar nadanya jika dibaca atau bagian-bagian yang memiliki terlalu banyak suku kata yang ditekan yang ada di tempat yang berdekatan.
Periksa Ejaan dan Tata Bahasa
Terakhir, gunakan pemeriksa ejaan (spell checker) yang ada di program Microsoft Word. Program ini dapat menemukan beberapa kesalahan dalam tulisan Anda. Meskipun begitu, gunakan hikmat Anda sendiri untuk tidak mengikuti beberapa aturan tata bahasa jika memang dirasa diperlukan. Percayalah pada pendengaran Anda. (t/Setyo)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Nama situs : Jeff Chapman's Web Site!
Judul asli artikel : How To Edit Your Own Writing (Self-Editing)
Penulis : Jeff Chapman
Alamat URL : http://home.earthlink.net/~jdc24/selfEdit.htm
Apabila draf tulisan Anda terlihat kaku dan kurang baik, hal itu bisa diperbaiki dengan suntingan yang baik. Karena menyewa seorang editor tidaklah selalu dimungkinkan, sering kali Anda mendapat "kesempatan" untuk menyuntingnya sendiri. Setiap kali Anda bergulat dengan ide-ide, frasa, dan kata-kata sifat untuk menaruh gambaran yang Anda maksud ke dalam pikiran pembaca, Anda akan menghargai bahwa menulis adalah hal yang sulit. Menyunting merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan -- suntingan yang baik biasanya memerlukan waktu yang lamanya hampir sama dengan penulisan draf tulisan itu sendiri. Meski demikian, hasilnya setimpal dengan upaya yang dilakukan saat menyunting.
Menyunting adalah proyek yang harus dilakukan berulang kali dan benar-benar membutuhkan kesabaran. Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus Anda lakukan dalam menyunting. Urutan langkah yang Anda ambil dalam menyunting akan memengaruhi gaya tulisan Anda; lakukan sedikit percobaan untuk mengetahui urutan langkah-langkah mana yang paling baik menyunting tulisan Anda. Anda akan menyadari bahwa Anda sebenarnya sedang menyunting ketika Anda secara positif sudah muak dan lelah membaca ulang tulisan Anda.
Sinonim
Belilah tesaurus terbaik yang bisa Anda temukan. Sebuah tesaurus akan membantu jika tesaurus itu memiliki bagian "kategori" yang memungkinkan Anda untuk membaca secara ide besar. Bacalah tulisan Anda dan carilah persamaan kata yang paling cocok/tepat untuk menggambarkan maksud Anda. Namun, Anda harus berhati-hati, ingatlah bahwa masing-masing pembaca memiliki tingkat pengetahuan yang tidak sama dan mungkin menghindari kata-kata yang terlalu rumit.
Simile dan Metafora
Pakailah simile dan metafora jika memungkinkan, namun usahakan tetap sesuai dengan konteks tulisan Anda. Terkadang, metafora yang terlalu luas (atau simile yang terlalu menyolok) dapat mengacaukan gagasan utama tulisan Anda. Jangan memadukan metafora dengan membandingkan sesuatu dengan cerek teh hanya untuk kemudian membandingkannya dengan sebuah mobil.
Cek Kamus
Baca tulisan Anda, jika Anda kurang begitu yakin dengan arti suatu kata, carilah arti kata tersebut di dalam kamus. Saya sendiri beberapa kali terkejut saat saya menggunakan satu kata berkali-kali hanya untuk membuat tulisan terlihat bagus dan kemudian menemui bahwa maknanya benar-benar berbeda dari yang saya maksud.
Bacalah Keras-keras
Anda tidak perlu membacanya keras-keras di depan orang lain. Mengherankan, bahkan saat Anda duduk di sofa sendirian dan membacanya, Anda bisa segera menemukan frasa dan kata-kata yang janggal yang sangat sering Anda gunakan.
Tindakan dan Kalimat Aktif
Tulisan Anda akan menjadi jelas bila Anda menyusun kalimat Anda dengan pola subjek-predikat-objek; tulislah sebuah tindakan daripada mendeskripsikan situasi. Gunakan komputer Anda untuk mencari kata-kata kerja yang diawali dengan "di" -- tulisan Anda akan lebih baik jika Anda menggunakan kalimat aktif.
Buatlah Kalimat Positif
Terkadang, kata "tidak" berguna untuk menekankan sesuatu. Namun sering kali, sebuah kalimat akan jauh lebih kuat jika kalimat itu adalah kalimat positif; gunakan komputer untuk mencari kata "tidak" dan tulis kembali kalimat tersebut dengan menggunakan deskripsi lain.
Hilangkan Tanda Koma
Tanda koma yang diikuti kata "tetapi" bukanlah masalah. Tanda koma untuk memisahkan daftar rincian sesuatu juga tak menjadi masalah. Tanda koma untuk menjelaskan kalimat dalam tanda kurung boleh dipakai. Namun, penggunaan tanda koma untuk hal lain membutuhkan kecermatan khusus -- apakah seharusnya memakai tanda titik koma, titik dua, tanda hubung, atau tanda kurung?
Tenggelamkan Kesokpintaran Anda.
Jika ada tulisan yang kesannya "sok pintar", Anda harus menyingkirkannya.
Susunlah Kembali Kata-kata dan Kalimat Anda
Usahakan kata-kata Anda tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. Kata-kata penting terletak di akhir kalimat; kalimat utama terletak di akhir paragraf.
Kata-kata Memiliki Intonasi
Kadang membaca bisa menjadi aneh karena tekanan setiap suku katanya begitu "datar". Tandailah tulisan Anda dengan suku kata yang memiliki penekanan dan susunlah kembali kata-kata yang datar nadanya jika dibaca atau bagian-bagian yang memiliki terlalu banyak suku kata yang ditekan yang ada di tempat yang berdekatan.
Periksa Ejaan dan Tata Bahasa
Terakhir, gunakan pemeriksa ejaan (spell checker) yang ada di program Microsoft Word. Program ini dapat menemukan beberapa kesalahan dalam tulisan Anda. Meskipun begitu, gunakan hikmat Anda sendiri untuk tidak mengikuti beberapa aturan tata bahasa jika memang dirasa diperlukan. Percayalah pada pendengaran Anda. (t/Setyo)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Nama situs : Jeff Chapman's Web Site!
Judul asli artikel : How To Edit Your Own Writing (Self-Editing)
Penulis : Jeff Chapman
Alamat URL : http://home.earthlink.net/~jdc24/selfEdit.htm
Menulis Efektif
Menulis Efektif
Banyak orang berasumsi bahwa hanya dengan mengambil pulpen, penulis sejati mampu mengalirkan kata-kata dari awal sampai akhir. Seorang penulis sejati mengerti bahwa ada proses di dalam menulis. Jika Anda memerhatikan enam prinsip dalam menulis di bawah ini, maka Anda akan dapat menulis dengan mudah.
Perencanaan
Perencanaan adalah proses mengumpulkan ide dan memikirkan fokus dari tulisan Anda. "Tulis yang Anda tahu" adalah ungkapan yang diakui secara luas dalam dunia penulis karena hal itu adalah kebenaran mutlak! Seorang pembaca tahu apakah Anda mengerti apa yang Anda katakan atau Anda hanya menuliskan daftar fakta-fakta yang Anda ambil dari referensi Anda. Titik beratkan talenta Anda untuk menjadi seorang ahli atau penguasa di bidang studi pilihan Anda. Titik beratkan gagasan Anda pada topik yang telah Anda pilih. Tujuan Anda adalah menulis dan pembaca yang akan membaca tulisan Anda.
Pembentukan
Setiap penulis memiliki proses berpikir yang berbeda, namun cara berpikir itu harus dituangkan dalam sebuah urutan logis yang dapat dimengerti pembaca. Urutan klimaktik (clicmatic order), mulai dari hal yang kurang penting dan dibangun sampai pada hal terpenting. Urutan kronologis (chronological order), mengalir seturut rangkaian waktu. Dan urutan spasial (spatial order), mengacu pada lokasi fisik. Tentukan peran yang akan Anda mainkan dalam tulisan Anda dan kemudian atur bahan-bahan Anda secara efektif, namun dengan gaya yang orisinil yang menyatakan minat dan bakat Anda kepada pembaca.
Penulisan Draf
Setelah Anda mengumpulkan ide-ide dan membentuk gaya penyajian, susunlah kalimat ke dalam bentuk paragraf. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menulis sebuah kalimat yang sempurna; sebuah kalimat yang menyampaikan informasi kepada pembaca dalam bentuk pemikiran yang orisinal. Shakespeare adalah ahlinya dalam hal mengembangkan kata-kata yang masih kita pakai hingga saat ini. Tujuan dari penyusunan draf adalah melangkah maju. Jangan menatap sebuah halaman kosong, tulislah dengan bebas dan biarkan terus mengalir. Penyusunan draf tidak harus sempurna, itulah mengapa mereka menyebutnya dengan istilah draf awal. Jangan hiraukan ejaan dan tata bahasa pada draf-draf awal dan biarkan kata-kata mengalir.
Revisi
Kembalilah dan evaluasi draf Anda. Tulis ulang draf Anda dengan menambahkan, memotong, mengganti, dan memindahkan tulisan-tulisan pada draf agar lebih jelas. Untuk merevisi secara efektif, evaluasilah apa yang telah Anda tulis. Putuskan di mana Anda harus menambah informasi atau menyisipkan kata-kata. Temukan tulisan-tulisan yang tidak berguna dan menyimpang. Tetap fokus pada topik Anda! Ganti kata-kata lama dengan kata-kata baru, khususnya ketika Anda menemukan kata yang terus-menerus diulang. Pindahkan bahan-bahan Anda atau ubah urutan paragraf jika materi Anda tidak tersaji dalam urutan yang logis. Menulis adalah persoalan merevisi!
Menyunting
Menyunting adalah langkah kunci yang sering kali dilewatkan penulis. Para penulis cukup puas dengan langkah terakhir revisi, jadi mereka tidak meluangkan waktu ekstra untuk menyunting tulisan dan kebenaran teknis mekanisnya. Jika menyunting terlalu cepat, mungkin Anda akan melewatkan fakta bahwa pesan dalam tulisan tidak tersampaikan dengan efektif. Untuk benar-benar menyunting tulisan secara efektif, jauhilah tulisan Anda selama beberapa jam, lalu kembalilah lagi. Anda akan terkejut melihat betapa banyak kesalahan yang terlewatkan oleh mata Anda.
Penyuntingan memerhatikan: tata bahasa, ejaan, tanda hubung, tanda koma, tanda titik koma, tanda baca, huruf kapital, huruf miring, nomor, dan singkatan.
Baca Akhir
Langkah terakhir adalah membaca akhir tulisan Anda. Anda memastikan bahwa hasil akhir tulisan Anda akurat dan bersih. Langkah ini berbeda dengan penyuntingan karena langkah ini hanya fokus pada kesalahan ketik yang mata Anda lewatkan. Kebanyakan program pengolah kata memiliki "spell checker", namun periksalah lagi bahwa Anda telah menngunakan kata yang benar.
Memulainya dari bagian akhir tulisan daripada dari bagian awal tulisan akan menolong Anda untuk fokus, tidak dibingungkan oleh isi tulisan. (t/Adwin)
Banyak orang berasumsi bahwa hanya dengan mengambil pulpen, penulis sejati mampu mengalirkan kata-kata dari awal sampai akhir. Seorang penulis sejati mengerti bahwa ada proses di dalam menulis. Jika Anda memerhatikan enam prinsip dalam menulis di bawah ini, maka Anda akan dapat menulis dengan mudah.
Perencanaan
Perencanaan adalah proses mengumpulkan ide dan memikirkan fokus dari tulisan Anda. "Tulis yang Anda tahu" adalah ungkapan yang diakui secara luas dalam dunia penulis karena hal itu adalah kebenaran mutlak! Seorang pembaca tahu apakah Anda mengerti apa yang Anda katakan atau Anda hanya menuliskan daftar fakta-fakta yang Anda ambil dari referensi Anda. Titik beratkan talenta Anda untuk menjadi seorang ahli atau penguasa di bidang studi pilihan Anda. Titik beratkan gagasan Anda pada topik yang telah Anda pilih. Tujuan Anda adalah menulis dan pembaca yang akan membaca tulisan Anda.
Pembentukan
Setiap penulis memiliki proses berpikir yang berbeda, namun cara berpikir itu harus dituangkan dalam sebuah urutan logis yang dapat dimengerti pembaca. Urutan klimaktik (clicmatic order), mulai dari hal yang kurang penting dan dibangun sampai pada hal terpenting. Urutan kronologis (chronological order), mengalir seturut rangkaian waktu. Dan urutan spasial (spatial order), mengacu pada lokasi fisik. Tentukan peran yang akan Anda mainkan dalam tulisan Anda dan kemudian atur bahan-bahan Anda secara efektif, namun dengan gaya yang orisinil yang menyatakan minat dan bakat Anda kepada pembaca.
Penulisan Draf
Setelah Anda mengumpulkan ide-ide dan membentuk gaya penyajian, susunlah kalimat ke dalam bentuk paragraf. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menulis sebuah kalimat yang sempurna; sebuah kalimat yang menyampaikan informasi kepada pembaca dalam bentuk pemikiran yang orisinal. Shakespeare adalah ahlinya dalam hal mengembangkan kata-kata yang masih kita pakai hingga saat ini. Tujuan dari penyusunan draf adalah melangkah maju. Jangan menatap sebuah halaman kosong, tulislah dengan bebas dan biarkan terus mengalir. Penyusunan draf tidak harus sempurna, itulah mengapa mereka menyebutnya dengan istilah draf awal. Jangan hiraukan ejaan dan tata bahasa pada draf-draf awal dan biarkan kata-kata mengalir.
Revisi
Kembalilah dan evaluasi draf Anda. Tulis ulang draf Anda dengan menambahkan, memotong, mengganti, dan memindahkan tulisan-tulisan pada draf agar lebih jelas. Untuk merevisi secara efektif, evaluasilah apa yang telah Anda tulis. Putuskan di mana Anda harus menambah informasi atau menyisipkan kata-kata. Temukan tulisan-tulisan yang tidak berguna dan menyimpang. Tetap fokus pada topik Anda! Ganti kata-kata lama dengan kata-kata baru, khususnya ketika Anda menemukan kata yang terus-menerus diulang. Pindahkan bahan-bahan Anda atau ubah urutan paragraf jika materi Anda tidak tersaji dalam urutan yang logis. Menulis adalah persoalan merevisi!
Menyunting
Menyunting adalah langkah kunci yang sering kali dilewatkan penulis. Para penulis cukup puas dengan langkah terakhir revisi, jadi mereka tidak meluangkan waktu ekstra untuk menyunting tulisan dan kebenaran teknis mekanisnya. Jika menyunting terlalu cepat, mungkin Anda akan melewatkan fakta bahwa pesan dalam tulisan tidak tersampaikan dengan efektif. Untuk benar-benar menyunting tulisan secara efektif, jauhilah tulisan Anda selama beberapa jam, lalu kembalilah lagi. Anda akan terkejut melihat betapa banyak kesalahan yang terlewatkan oleh mata Anda.
Penyuntingan memerhatikan: tata bahasa, ejaan, tanda hubung, tanda koma, tanda titik koma, tanda baca, huruf kapital, huruf miring, nomor, dan singkatan.
Baca Akhir
Langkah terakhir adalah membaca akhir tulisan Anda. Anda memastikan bahwa hasil akhir tulisan Anda akurat dan bersih. Langkah ini berbeda dengan penyuntingan karena langkah ini hanya fokus pada kesalahan ketik yang mata Anda lewatkan. Kebanyakan program pengolah kata memiliki "spell checker", namun periksalah lagi bahwa Anda telah menngunakan kata yang benar.
Memulainya dari bagian akhir tulisan daripada dari bagian awal tulisan akan menolong Anda untuk fokus, tidak dibingungkan oleh isi tulisan. (t/Adwin)
Menulis Biografi
Menulis Biografi
Biografi, secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, namun juga dapat berupa lebih dari satu buku.Perbedaannya adalah, biografi singkat hanya memaparkan tentang fakta-fakta dari kehidupan seseorang dan peran pentingnya sementara biografi yang panjang meliputi, tentunya, informasi-informasi penting namun dikisahkan dengan lebih mendetail dan tentunya dituliskan dengan gaya bercerita yang baik.Biografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup seseorang. Lewat biografi, akan ditemukan hubungan, keterangan arti dari tindakan tertentu atau misteri yang melingkupi hidup seseorang, serta penjelasan mengenai tindakan dan perilaku hidupnya. Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh terkenal atau tidak terkenal, namun demikian, biografi tentang orang biasa akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa tertentu. Biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh sejarah, namun tak jarang juga tentang orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasar tema-tema utama tertentu (misalnya "masa-masa awal yang susah" atau "ambisi dan pencapaian"). Walau begitu, beberapa yang lain berfokus pada topik-topik atau pencapaian tertentu.Biografi memerlukan bahan-bahan utama dan bahan pendukung. Bahan utama dapat berupa benda-benda seperti surat-surat, buku harian, atau kliping koran. Sedangkan bahan-bahan pendukung biasanya berupa biografi lain, buku-buku referensi atau sejarah yang memaparkan peranan subyek biografi itu.Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menulis sebuah biografi antara lain:
· Pilih seseorang yang menarik perhatian Anda.
· Temukan fakta-fakta utama mengenai kehidupan orang tersebut.
· Mulailah dengan ensiklopedia dan catatan waktu.
· Pikirkan, apa lagi yang perlu Anda ketahui mengenai orang itu, bagian mana dari hidupnya yang ingin lebih banyak Anda tuliskan.Beberapa pertanyaan yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan misalnya:
Apa yang membuat orang ini istimewa atau menarik?
Dampak apa yang telah ia lakukan bagi dunia atau orang lain?
Kata sifat apa yang mungkin akan sering Anda gunakan untuk menggambarkan orang ini?
Contoh apa yang dapat dilihat dari hidupnya yang menggambarkan sifat tersebut?
Kejadian apa yang membentuk atau mengubah kehidupan orang itu?
Apakah ia mampu mengatasi rintangan tersebut? Apakah ia mengatasinya dengan mengambil resiko? Atau dengan keberuntungan?
Apakah dunia akan menjadi lebih baik atau lebih buruk jika orang ini tidak pernah hidup? Bagaimana bisa dan mengapa?
Lakukan juga penelitian lebih lanjut dengan bahan-bahan dari perpustakaan atau internet untuk membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas serta supaya cerita Anda lebih menarik.
Bahan diterjemahkan oleh Ary dari:Situs : http://www.infoplease.com/homework/wsbiography.html
Biografi, secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, namun juga dapat berupa lebih dari satu buku.Perbedaannya adalah, biografi singkat hanya memaparkan tentang fakta-fakta dari kehidupan seseorang dan peran pentingnya sementara biografi yang panjang meliputi, tentunya, informasi-informasi penting namun dikisahkan dengan lebih mendetail dan tentunya dituliskan dengan gaya bercerita yang baik.Biografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup seseorang. Lewat biografi, akan ditemukan hubungan, keterangan arti dari tindakan tertentu atau misteri yang melingkupi hidup seseorang, serta penjelasan mengenai tindakan dan perilaku hidupnya. Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh terkenal atau tidak terkenal, namun demikian, biografi tentang orang biasa akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa tertentu. Biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh sejarah, namun tak jarang juga tentang orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasar tema-tema utama tertentu (misalnya "masa-masa awal yang susah" atau "ambisi dan pencapaian"). Walau begitu, beberapa yang lain berfokus pada topik-topik atau pencapaian tertentu.Biografi memerlukan bahan-bahan utama dan bahan pendukung. Bahan utama dapat berupa benda-benda seperti surat-surat, buku harian, atau kliping koran. Sedangkan bahan-bahan pendukung biasanya berupa biografi lain, buku-buku referensi atau sejarah yang memaparkan peranan subyek biografi itu.Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menulis sebuah biografi antara lain:
· Pilih seseorang yang menarik perhatian Anda.
· Temukan fakta-fakta utama mengenai kehidupan orang tersebut.
· Mulailah dengan ensiklopedia dan catatan waktu.
· Pikirkan, apa lagi yang perlu Anda ketahui mengenai orang itu, bagian mana dari hidupnya yang ingin lebih banyak Anda tuliskan.Beberapa pertanyaan yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan misalnya:
Apa yang membuat orang ini istimewa atau menarik?
Dampak apa yang telah ia lakukan bagi dunia atau orang lain?
Kata sifat apa yang mungkin akan sering Anda gunakan untuk menggambarkan orang ini?
Contoh apa yang dapat dilihat dari hidupnya yang menggambarkan sifat tersebut?
Kejadian apa yang membentuk atau mengubah kehidupan orang itu?
Apakah ia mampu mengatasi rintangan tersebut? Apakah ia mengatasinya dengan mengambil resiko? Atau dengan keberuntungan?
Apakah dunia akan menjadi lebih baik atau lebih buruk jika orang ini tidak pernah hidup? Bagaimana bisa dan mengapa?
Lakukan juga penelitian lebih lanjut dengan bahan-bahan dari perpustakaan atau internet untuk membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas serta supaya cerita Anda lebih menarik.
Bahan diterjemahkan oleh Ary dari:Situs : http://www.infoplease.com/homework/wsbiography.html
Langganan:
Postingan (Atom)
